Jateng Today

Mabes Polri Imbau Masyarakat tak Lakukan Aksi Turun Jalan pada 22 Mei 2019

Instagram

SENKOMJATENG.COM — Kadiv Humas Polri, Irjen Polisi Mohammad Iqbal, SIK, M.H, memimpin konferensi pers terkait penangkapan 68 tersangka teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Lobi Divhumas Polri, Jakarta, Jumat (17/5).

Dengan rincian:

– 4 teroris ditangkap pada Januari 2019

– 1 tersangka di bulan Februari

– 20 tersangka di bulan Maret

– 14 tersangka di pada April

Pada bulan Mei sebanyak 29 tersangka yang terdiri dari 18 teroris kelompok JAD ditangkap di Jakarta, Bekasi, Karawang, Tegal, Nganjuk dan Bitung Sulawesi Utara. Sedangkan 11 tersangka lainnya ditangkap di Grobogan, Sukoharjo, Sragen, Kudus, Jepara, Semarang dan Madiun.

Dari penangkapan tersebut, petugas mengamankan 5 buah bom rakitan jenis TATP (triacetone triperoxide) atau The Mother of Satan yang berdaya ledak tinggi.

Sebelumnya Mabes Polri menayangkan sebuah video berisi pengakuan seorang terduga teroris berinisial DY yang ditangkap di Jepara, Jawa Tengah, Selasa (14/5).

Dalam video tersebut, DY alias Jundi alias Bondan mengatakan akan melakukan serangan pada tanggal 22 Mei 2019.

Dengan kata lain, ia berencana melakukan aksi amaliyah dengan memanfaatkan momentum dimana KPU mengumumkan hasil rekapitulasi nasional Pemilu 2019 di tanggal yang sama.

DY mengakui dirinya telah merangkai bom dan berencana meledakkannya menggunakan remote control. “Nama saya DY alias Jundi alias Bondan, saya memimpin beberapa ikhwan untuk melakukan amaliyah pada 22 Mei dengan menggunakan bom yang sudah saya rangkai dan menggunakan remote control,” ujar DY seperti dikutip dari video yang ditayangkan di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (17/5).

Terduga teroris itu menyebut tanggal 22 Mei 2019 tepat untuk melakukan aksi amaliyah, dimana terdapat isu akan dilakukan aksi people power sehingga akan terjadi kerumunan massa.

Selain itu, pengumuman KPU dinilainya sebagai momentum yang tepat untuk melancarkan serangan. Pasalnya, pesta demokrasi bertentangan dengan keyakinan dari DY.

“Yang mana pada tanggal tersebut sudah kita ketahui bahwa di situ akan ada kerumunan massa yang merupakan event yang bagus untuk saya untuk melakukan amaliyah,” kata dia.

“Karena di situ memang merupakan pesta demokrasi yang menurut keyakinan saya adalah sirik akbar yang membatalkan ke-Islaman. Yang termasuk barokah melepas diri saya dari kesyirikan tesebut,” ucap DY.

Mabes Polri pun mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aksi turun ke jalan pada tanggal 22 Mei 2019 atau saat KPU mengumumkan hasil rekapitulasi nasional Pemilu 2019.

“Pada tanggal 22 Mei, masyarakat kami imbau tidak turun (ke jalan), ini akan membahayakan,” ujar Kadiv Humas Polri Irjen Pol Mohammad Iqbal. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*